Selasa, 15 Maret 2011

Mikromiretik





LAPORAN PRAKTIKUM


MIKROMIRETIK









BAB I


PENDAHULUAN




I.1 Latar Belakang


Kita ketahui bersama dalam bidang farmasi, zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat kebanyakan berukuran kecil dan jarang yang berada dalam keadaan optimum. Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting dalam bidang farmasi sebab merupakan penentu bagi sifat-sifat, baik sifat fisika, kimia dan farmakologik dari bahan obat tersebut.


Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang partikel kecil. Pengertian ini sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa farmasi khususnya dalam membahas obat sediaan padat seperti kapsul, tablet, granul, sirup kering.


Pada percobaan ini, akan ditentukan diameter partikel dari Seng oksida dan talkum dengan menggunakan metode ayakan, metode ini merupakan metode yang paling sederhana, tetapi relatif lama dari penentuan ukuran partikel adalah analisis ayakan.




I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud Percobaan


Mengetahui dan memahami cara menentukan ukuran partikel dengan menggunakan metode tertentu.




I.2.2 Tujuan Percobaan


Menentukan ukuran partikel ZnO dan talkum dengan menggunakan metode ayakan.



I.3 Prinsip Percobaan


Pengukuran partikel dari serbuk berdasarkan atas penimbangan residu yang tertinggal pada tiap ayakan yaitu dengan melewatkan serbuk pada ayakan dari nomor mesh rendah ke nomor mesh tinggi yang digerakkan oleh mesin penggetar dengan waktu 10 menit dan kecepatan 5 rpm.















































BAB II


TINJAUAN PUSTAKA




II.1 Teori Umum


Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang partikel yang kecil. Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran luas permukaan rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya. Pengertian ukuran partikel adalah ukuran diameter rata-rata.


Metode paling sederhana dalam penentuan nilai ukuran partikel adalah menggunakan pengayak standar. Pengayak terbuat dari kawat dengan ukuran lubang tertentu. Istilah ini (mesh) digunakan untuk menyatakan jumlah lubang tiap inchi linear. (1)


Beberapa cara pengukuran partikel, yaitu:


1. Metode mikroskopis (2)


Bila partikelnya lebih kecil maka dapat digunakan mikroskop elektron yang mempunyai daya resolusi tingggi sehingga dapat mengukur partikel yang lebih kecil yaitu partikel dengan ukuran Angstrom dari 10-1000 Angstrom (1 Angstrom = 0,001 mikrometer). Mikroskop ini mempunyai jelajah ukur dari 1 mikrometer sampai kurang dari 100 mikrometer. Pengukuran berjumlah 300 sampai 500 biji.










2. Dengan ayakan (2)


Cara ini adalah untuk mengukur ukuran partikel secara kasar. Bahan yang akan diukur partikelnya ditaruh di atas ayakan dengan nomor mesh rendah, kemudian dibawahnya ditempatkan ayakan dengan ayakan bernomor mesh lebih tinggi. Perlu diingat bahwa ayakan bernomor mesh rendah mempunyai ukuran lubang relarif besar dibanding ayakan bernomor mesh tinggi. Atau dengan kata lain partikel yang melalui ayakan dengan nomor mesh 100 ukuran partikel lebih kecil dibandingkan dengan partikel yang melalui ayakan mesh 30 misalnya. Sejumlah zat yang akan diukur partikelnya ditimbang 50 gram dan dimasukkan dalam ayakan yang telah disusun dengan urutan dari nomor mesh yang besar di atas, kecil di bawah. Setelah partikel menerobos ayakan barulah ditimbang masing-masing zat tersebut yang tertingggal di atas ayakan.


3. Dengan cara sedimentasi (2)


Metode yang digunakan dalam penentuan partikel cara sedimentasi ini adalah metode pipet, metode hidrometer dan metode malance.


Untuk memulai setiap analisis ukuran partikel harus diambil dari umumnya jumlah bahan besar (ditandai dengan jumlah dasar) suatu contoh yang representatif. Karenanya suatu pemisahan bahan awal dihindari oleh karena dari suatu pemisahan, contoh yang diambil berupa bahan halus atau bahan kasar. Untuk pembagian contoh pada jumlah awal dari 10-1000 g digunakan apa yang disebut Pembagi Contoh piring berputar. Pada jumlah dasar yang amat besar harus ditarik beberapa contoh dimana tempat pengambilan contoh sebaiknya dipilih menurut program acak. (2)


Ilmu dan teknologi partikel kecil diberi nama mikromiretik oleh Dalla Valle. Dispersi koloid dicirikan oleh partikel yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mikroskop biasa, sedang partikel emulsi dan suspensi farmasi serta serbuk halus berada dalam jangkauan mikroskop optik. Partikel yang mempunyai ukuran serbuk lebih kasar, granul tablet, dan garam granular berada dalam kisaran ayakan. (3)


Setiap kumpulan partikel biasanya disebut polidispersi. Karenanya perlu untuk mengetahui tidak hanya ukuran dari suatu partikel tertentu, tapi juga berapa banyak partikel-partikel dengan ukuran yang sama ada dalam sampel. Jadi kita perlu suatu perkiraan kisaran ukuran tertentu yang ada dan banyaknya atau berat fraksi dari tiap-tiap ukuran partikel, dari sini kita bisa menghitung ukuran partikel rata-rata untuk sampel tersebut. (3)


Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting dalam farmasi, sebab ukuran partikel mempunyai peranan besar dalam pembuatan sediaan obat dan juga terhadap efek fisiologisnya. (4)


Pentingnya mempelajari mikromiretik, yaitu: (1)


1. Menghitung luas permukaan


2. Sifat kimia dan fisika dalam formulasi obat


3. Secara teknis mempelajari pelepasan obat yang diberikan secara per oral, suntikan dan topikal


4. Pembuatan obat bentuk emulsi, suspensi dan duspensi


5. Stabilitas obat (tergantung dari ukuran partikel).




II.2 Uraian Bahan


1. Talk ( 5; 591)


Nama Resmi : Talcum


Sinonim : Talk


RM : Mg6(Si2O3)­4(OH)4


Pemerian : Serbuk hablur, sangat halus licin, mudah melekat pada kulit, bebas dari butiran, warna putih atau putih kelabu.


Kelarutan : Tidak larut dalam hampir semua pelarut.


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


Khasiat : Zat tambahan


Kegunaan : Sebagai sampel


Derajat halus (6) : 120, serbuk sangat halus.






2. ZnO ( 5; 636 )


Nama Resmi : Zinci Oxydum


Sinonim : Seng Oksida


Pemerian : Serbuk amorf, sangat halus, putih atau putih kekuningan, tidak berbau, tidak berasa, lambat laun menyerap karbon dioksida dari udara.


Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etano (95%) P; larut dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida.


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


Khasiat : Antiseptikum lokal


Kegunaan : Sebagai sampel.


Derajat halus (6) : 120, serbuk sangat halus.


































































BAB III


METODE KERJA






III.1 Alat dan bahan


III.1.1 Alat yang digunakan


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah ayakan nomor mesh 18, 20, 40, 70, 180, mesin pengayak, sikat tabung, timbangan miligram.


III.1.2` Bahan yang digunakan


Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah ZnO, talk, kertas timbang dan tissue roll.




III.2 Cara Kerja


1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Ditimbang ZnO dan talk masing-masing sebanyak 25 g


3. Setiap ayakan lebih dahulu dibersihkan dengan sikat tabung kemudian dilap dengan tissue untuk memastikan keringnya pengayak maupun tidak terdapatnya partikel tertingggal lagi yang dapat menghalangi proses pengayakan.


4. Ayakan kemudian diset pemasangnya pada fibrator pengayak dengan nomor mesh 180 berada paling bawah disusul secara berurutan ke atas : 70, 40, 20 dan teratas nomor mesh 18.


5. Talk yang telah ditimbang 25 g ditempatkan pada pengayak nomor mesh 18, ditutup rapat mesin fibrator, kemudian mesin dijalankan dengan kecepatan 5 rpm (rotasi per minutes) dan diset waktu pengayakan selama 10 menit.


6. Setelah 10 menit, mesin fibrator akan berhenti secara otomatis. Ayakan kemudian masing-masing dibuka/diambil dari mesin fibrator.


7. Fraksi serbuk yang tertinggal pada masing-masing pengayak dengan nomor mesh berbeda ditimbang menggunakan timbangan miligram.


8. Dicatat data yang diperoleh dan dihitung nilai % tertahan serta ukuran diameter partikel rata-rata talk.






























































BAB IV


HASIL PENGAMATAN






IV.1 Hasil Pengamatan
IV.1.1 Data pengamatan


1. ZnO




No. Mesh


d (mm)


g (gr)


n (%)


n x d







18


1,000


4,977


19,908


19,908







20


0,850


1,608


6,432


5,467







40


0,425


5,060


20,240


8,602







70


0,212


4,628


18,512


3,925







180


0,180


0,352


1,408


0,253







S


16,273


66,5


38











2. Talk




No. Mesh


d (mm)


g (gr)


n (%)


n x d







18


1,000


0,133


0,532


0,532







20


0,850


6,894


27,576


23,440







40


0,425


9,017


36,068


15,329







70


0,212


5,711


22,844


4,843







180


0,180


0,039


0,156


0,028







S


21,794


87,176


44,172









Keterangan : d = diameter mesh


g = bobot tertinggal






n = % tertinggal






Massa yang tertahan pada no mesh


% tertinggal = x 100 %


Jumlah seluruh massa yang tertahan








IV.1.2 Perhitungan


S n.d


Dln =


S n





Keterangan = dln = diameter panjang rata-rata


n = % tertahan


d = diameter lubang ayakan (FI IV : 1045)


= m m


a. Diameter ZnO


S n.d 38


Dln = =


S n 66,5






= 0,571 mm






b. Diameter talk


S n.d 44,172


Dln = =


S n 87,176






= 0,507 mm














IV.2 Pembahasan


Suatu ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan atau pengaruh besar dalam pembuatan sediaan obat dan juga terhadap efek fisiologisnya. Pada percobaan kali ini dilakukan pengukuran diameter partikel serbuk talkum dan seng oksida dengan menggunakan metode ayakan. Keuntungan dari metode ini adalah alat yang digunakan sangat sederhana, penggunaannya mudah dan cepat, serta pengontrolan kecepatan dan waktu pengayakan yang konstan. Tetapi, jika dibandingkan dengan metode mikroskopik, metode ayakan memberikan hasil pengukuran yang kurang teliti dan kurang akurat serta memerlukan kuantitas bahan yang cukup banyak.


Perbedaan metode ayakan, sedimentasi, dan mikroskopik berdasarkan ukuran partikel yang dapat digunakan. Metode sedimentrasi yang dapat diukur adalah partikel yang terlalu kecil untuk dilihat dengan mikroskop biasa seperti disperse koloid. Metode ayakan biasanya mengukur partikel yang mempunyai ukuran serbuk lebih kasar, granul tablet, dan garam granular, partikel yang diukur diperkirakan sebesar 50 mikron, ayakan mmikro mesh dapat digunakan untuk memperpanjang batas bawah sampai 10 mikron. Metode mikroskopik biasanya digunakan untuk mengukur partikel emulsi dan suspensi farmasi serta serbuk halus, bila partikelnya lebih kecil maka dapat digunakan mikroskop elektron yang mempunyai daya resolusi tinggi sehingga dapat mengukur partikel yang lebih kecil yaitu partikel dengan ukuran Angstrom dari 10-1000 Angstrom (1 Angstrom = 0,001 mikrometer).


Mikromeritik adalah ilmu dan teknologi mengenai partikel kecil. Pengertian ini sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa farmasi khususnya dalam membahas obat sediaan padat seperti kapsul, tablet, granul, sirup kering. Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran luas permukaan rata-rata, volume rata-rata, volume rata-rata dan sebagainya. Pada umumnya pengertian ukuran partikel disini adalah ukuran diameter rata-rata.


Derajat halus serbuk tidak dapat diabaikan pada formulasi sediaan farmasi, karena sifat ini berkaitan dengan kehomogenitasan bentuk sediaan dan kandungannya, dimana persyaratan tersebut termasuk salah satu rangkaian dari evaluasi yang dilakukan terhadap produk jadi (segera setelah produk dihasilkan) yang menyatakan layak atau tidaknya produk tersebut dipasarkan di masyarakat. Ukuran dan luas permukaan, dari suatu partikel dapat dihubungkan dengan sifat fisika, kimia, dan farmakologi dari suatu obat. Ukuran partikel tidak hanya mempengaruhi luas permukaan suatu sediaan obat, yang secara lansung mempengaruhi cepat atau lambatnya absorbsi obat dan membantu daya larut suatu bahan obat tapi juga dapat mempengaruhi aktivitas biologi dan efek terapinya. Arti dari efek terapi disini berhubungan antara ukuran partikel suatu bahan sediaan obat dengan fungsi atau efek yang ditimbulkan senyawa obat tersebut. Formulasi yang berhasil dari suspensi, emulsi dan tablet, dari segi kestabilan fusik dan respon farmakologis juga bergantung pada ukuran partikel yang dicapai pada produk tersebut. Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul, pengendalian ukuran partikel penting sekali dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan pencampuran.


Ayakan digunakan untuk mengukur ukuran partikel secara kasar. Ayakan di susun dari atas ke bawah (nomor mesh terkecil ke nomor mesh tertinggi), nomor mesh adalah nomor yang tertera pada ayakan sesuai dengan diameter lubang ayakan. Apabila nomor meshnya kecil maka diameter ayakannya besar sedangkan apabila nomor mesh besar mempunyai diameter ayakan kecil. Kemudian bahan yang telah ditimbang disimpan di ayakan teratas. Dalam percobaan ini digunakan ayakan dengan nomor mesh 18, 20, 40, 70 dan 180. Nomor mesh 18 mempunyai diameter ayakan sebesar 1 mm, nomor mesh 20 mempunyai diameter sebesar 0,850 mm, pada nomor mesh 40 memiliki diameter sebesar 0,425, nomor mesh 70 mempunyai diameter 0,212, nomor mesh 180 mempunyai diameter sebesar 0,180. Ayakan itu disusun dengan nomor mesh 18 paling atas dan diikuti ayakan dengan nomor mesh 20, 40, 70 dan ayakan nomor mesh 180 paling bawah. Metode ayakan umumnya digunakan untuk memilih partikel-partikel yang lebih kasar, dan dapat mengayak bahan sampai sehalus 0.18 mm. Pengayak digerakkan atau digetarkan oleh mesin penggerak yang diatur pada kecepatan 5 rpm untuk menghindari pemaksaan partikel besar melewati ayakan akibat tingginya intensitas penggoyangan atau tertahannya partikel yang lebih kecil akibat lambatnya intensitas penggoyangan sehingga dipilih intensitas penggoyangan setengah dari kecepatan maksimum.


Adapun caranya sejumlah zat ( ZnO dan talk ) ditimbang 25 gram dan dimasukkan dalam ayakan yang telah disusun dengan urutan dari nomor mesh yang besar di atas dan yang paling kecil di bawah. Setelah partikel menerobos ayakan barulah ditimbang masing-masing zat tersebut yang tertinggal di atas ayakan.


Dari hasil percobaan diperoleh diameter rata-rata dari talkum yaitu 0,507 mm sedangkan diameter rata-rata dari ZnO adalah 0,571 mm. Berdasarkan literatur, jika derajat halus serbuk dinyatakan dengan no.1, dimaksudkan bahwa semua serbuk dapat melewati pengayak dengan nomor tersebut. Jika derajat serbuk dinyatakan dengan no.2, dimaksudkan bahwa serbuk tersebut dapat melewati pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40 % dapat melalui pengayak dengan nomor tertinggi.


Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, maka dapat dikatakan bahwa ZnO termasuk serbuk halus dan talk termasuk serbuk agak halus.


Hasil yang diperoleh dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :


- Adanya partikel yang hilang di udara atau tertinggal pada ayakan saat dibersihkan.


- Penimbangan sampel yang kurang akurat


- Banyaknya serbuk yang menempel pada ayakan sehingga mempengaruhi hasil penimbangan berat sisa.


















BAB V


P E N U T U P






V.1 Kesimpulan


Dari hasil percobaan maka disimpulkan bahwa :


1. Serbuk talk mempunyai ukuran diameter partikel rata-rata 0,507 mm.


2. Serbuk ZnO mempunyai ukuran diameter partikel rata-rata 0,571 mm.






V.2 Saran


- Laboratorium


Alat dan bahan dilengkapi, kebersihan harus selalu dijaga, tolong laboratoriumnya jangan numpang lagi di laboratorium lain.


- Untuk Asisten


Tetap Bersemangat dalam mendampingi praktikan dan terus berjalan diatas kebaikan untuk memberikan ilmu yang bermanfaat.






































DAFTAR PUSTAKA






1. Parrot, L,E. “Pharmaceutical Technologi”, Burgess Publishing Company, Mineapolish, 1970. 11, 12


2. Voigt, R. “Buku Pelajaran teknologi Farmasi”, edisi V, Cetakan I, UGM Press, Yogyakarta, 1994. 45, 47, 51.


3. Martin, A. “Farmasi Fisika”, Buku II, UI Press, Jakarta, 1990. 1022-1023, 1036-1038.


4. Moechtar. “Farmasi Fisika”, UGM Press, Yogyakarta, 1990. 169.


5. Ditjen POM. “Farmakope Indonesia”, edisi III, Jakarta, 1979. 591, 635.


6. Anief, M. “Ilmu Meracik Obat”, UGM Press, Yogyakarta, 2000. 33, 34.